Aug 31 2008
Dy Written by Gf_DoNtDiStUrB
Homoseksualitas: Sebuah Perenungan Analitis
Isu homoseks mungkin adalah salah satu dari berbagai isu yang dianggap tabu untuk dibicarakan oleh masyarakat umum di Indonesia. Posisinya bersebelahan dengan beberapa istilah lain seperti: kata seks itu sendiri, kumpul kebo, HIV AIDS, narkoba dan lain sebangsanya. Begitu tabunya, sampai-sampai jika mendengar pembicaraan tentang homoseksualitas, sebagian orang akan mengalihkan topik pembicaraan, pura-pura tidak mendengar atau mengerutkan dahi (sambil membatin, “It’s not me. So what?!!”).
Pemikiran yang seperti ini menimbulkan suatu efek domino yaitu: pentabuan, yang menjadikan homoseksualitas tidak pernah dibicarakan. Karena tidak pernah dibicarakan, masyarakat tidak akan pernah tahu sebenarnya apa homoseksualitas itu selain dari yang diekspose oleh media (cenderung menimbulkan imej negatif). Dihadapkan dengan informasi yang tidak berimbang, masyarakat mau tidak mau akan menilai sebelah mata terhadap isu-isu homoseksualitas. Lebih jauh lagi, hal tersebut akan menjurus pada Homophobia.
Waktu saya mengaku ke Ibu saya bahwa saya suka dengan teman wanita, beliau berkata , “Apa kamu nggak pengen jadi normal?” Pada saat itu, saya menjawabnya dengan satu anggukan kecil walau dalam benak saya kemudian muncul pertanyaan, “eh, normal itu apa sih?”. Menurut kamus, normal berarti biasa atau tidak aneh. Hal ini sangat relatif, sekarang bayangkan jika logikanya kita balik: semua manusia di dunia adalah homoseksual, maka kaum hetero dianggap tidak biasa dan aneh karenanya mereka disebut tidak normal. Karena dicap tidak normal, saya merasa sangat tidak nyaman dan ingin menjadi seperti orang lain yang hetero. Saya sempat dibawa orang tua ke psikiater dengan harapan bahwa saya berubah menjadi hetero. Saya mencoba flirting ke teman cowok, eh giliran dia yang PeDeKaTe, saya malah sibuk mencurahkan perhatian sepenuh hati kepada teman dekat cewek saya yang saya sukai, dalam hati cowok itu pasti teriak, “Capek deh!!” . Maaf Bro, saya tidak mendapat kenyamanan dengan kamu. Saya mencoba untuk menumbuhkan rasa suka kepada laki-laki, tetapi selalu dan selalu ada yang menyeru,” Kamu bohong!! Pura-pura lu!”.Setelah 6 bulan akhirnya saya patah arang juga, meneruskan sebuah hubungan dimana saya harus berpura-pura secara terus menerus sungguh sangat menyesakkan.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai sadar akan ke-lesbian-an saya dan perlahan mengakhiri fase pengingkaran diri untuk berusaha menjadi heteroseksual. Saya berdamai dengan diri saya sendiri, menjadi lebih tenang sehingga tidak perlu sesi satu jam bersama psikiater lagi. Bapak saya bertanya,” Kok nggak ke psikiater? Kamu sudah sembuh kah?” Sebenarnya, apakah lesbi itu suatu penyakit yang bisa disembuhkan?. Menurut wikipedia, penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidak nyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang dipengaruhinya. Menurut Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan RI No :220/MENKES/SK/III/2002 tanggal 25 Maret 2002, Kesehatan Jiwa (Mental Health) adalah “suatu kondisi mental yang sejahtera yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang, dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia”. Seseorang yang “sehat jiwa” mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya
2. Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar
3. Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya
4. Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup
5. Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya
6. Merasa nyaman bersama dengan orang lain
Dari paparan di atas, saya merasa semua ciri-ciri tersebut ada pada saya. Saya lesbian dan saya menerima itu sebagai suatu pemberian dari Sang Pemberi Hidup. Oleh karenanya, homoseksual adalah BUKAN penyakit.
Lebih jauh lagi, pada tahun 1974 semua anggota American Psychiatric Association (APA) secara voting telah setuju mencabut homoseksualitas sebagai kondisi psikiatri patologi, sehingga homoseksual tidak lagi tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th Edition (DSM IV). Hal ini dikuatkan lagi oleh keputusan menteri Kesehatan direktorat kesehatan jiwa yang juga mencabut homoseksualitas dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III/ tahun 1993. Demikianlah, maka homoseksualitas tidak lagi bersanding dengan keterbelakangan mental, depresi, schizophrenia, dan lainnya. Karena bukan penyakit, maka homoseksualitas TIDAK menular. (dy)